Emergency Call: ( 0411 ) 872 120

Selamat Datang Di Website Kami. Maskerku Menyelamatkanmu, Maskermu Menyelamatkanku, Ayo..! Cegah Penularan Covid 19
FAKTA Kalung Antivirus Corona Kementan Berbahan Eu...
Super User

Kalung antivirus corona dari Kementerian Pertanian ( Kementan) ramai diperbincangkan belakangan i [ ... ]

Pertolongan Pertama yang Dapat Dilakukan pada Oran...
Super User

Pertolongan Pertama yang Dapat Dilakukan pada Orang yang Terkena Hipotermia: Beri Minuman Hangat  [ ... ]

Tipe Corona di Indonesia Beda dari Dunia, Ini Cara...
Super User

Jakarta - Lembaga Biologi Molekuler Eijkman telah berhasil melakukan tiga whole genome sequencing ( [ ... ]

Other Articles

Kalung antivirus corona dari Kementerian Pertanian ( Kementan) ramai diperbincangkan belakangan ini.

Kalung antivirus yang merupakan produk Eucalyptus, kandungan minyak atsiri dari daun kayu putih, disebut dapat mencegah Corona.

Produk ini juga dikabarkan akan segera di diproduksi masal dalam waktu dekat

Kementan berencana untuk membuat antivirus corona yang dibuat dari bahan eucalyptus (kayu putih) pada Agustus 2020 dalam beberapa produk.

Antivirus tersebut berbentuk kalung aromaterapi, balsem, roll on, serta diffuser.

Sederet produk berwarna hijau dan bertuliskan Antivirus Corona ini mengandung tanaman Atsiri (eucalyptus).

Kandungan kayu putih inilah yang dipercaya dapat digunakan sebagai antivirus corona.

Di lini masa, banyak pihak yang mempertanyakan tentang klaim antivirus corona yang dimaksud.

Hal ini sejalan dengan fakta di mana hingga kini belum ada vaksin pasti yang dapat melawan Covid-19.

Berikut 5 fakta kalung Antivirus Corona Kementan yang TribunStyle.com rangkum dari berbagai sumber:

1. Klaim pemerintah

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa produk ini telah melalui uji lab peneliti pertanian terhadap virus influenza, serta beta dan gamma corona.

"Ini antiVirus Corona, dari hasil penelitian dari litbang Kementerian Pertanian. Berasal dari pohon kayu putih. Dari 700 jenis pohon kayu putih satu yang bisa mematikan Virus Corona. Ini hasil laboratorium kita, dan bulan depan akan kami produksi," kata Syahrul dikutip dari Kompas.com saat ditanya wartawan apa manfat kalung yang baru-baru ini ia kenakan.

Syahrul kemudian menjelaskan, antivirus yang ia klaim mampu membunuh Virus Corona ini sudah dilakukan uji coba.

"Kalau kontak selama 15 menit bisa membunuh 42 persen dari Virus Corona (yang terpapar ke tubuh), kalau setengah jam bisa 80 persen Virus Corona mati," katanya.

Namun belum muncul keterangan pasti apakan penelitian tersebut juga termasuk Covid-19 yang merupakan jenis virus corona.

2. Cara kerja

Bukan dengan memakai kalung antivirus, lantas virus corona termasuk Covid-19 yang ada di sekitar kita hilang.

Dr. Ir. Evi Savitri Iriani, MSi, Kepala Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat yang terlibat dalam penelitian ini menerangkan bagaimana cara kerja eucalyptus mencegah virus corona.

Sebelumnya Evi bercerita, ada beberapa kenalannya yang terkena Covid-19 dan telah diujicobakan menggunakan eucalyptus.

Namun perlu diingat, ini bukan uji klinis yang diakui, tapi hanya mencobakan.

Mengingat dari segi toksisitas, bahan eucalyptus dan kayu putih aman digunakan, Evi dan tim mencobakan produk ini ke teman-temannya yang terinfeksi Covid-19.

Evi mengaku beberapa pasien Covid-19 mendapat manfaat dari kalung antivirus setelah menghirup bau eucalyptus yang ada di dalamnya.

Bau tersebut dapat membunuh virus yang berada di tenggorokan manusia.

3. Bukan vaksin

Kepala Badan Litbang Pertanian Kementan Fadjry Djufry menjelaskan, penemuan antivirus ini sebagai salah satu upaya pemerintah dalam mencari obat untuk mencegah dan menangani virus corona penyebab Covid-19 yang masih mewabah di Indonesia.

"Ini bukan obat oral, ini bukan vaksin, tapi kita sudah lakukan uji efektivitas, secara laboratorium secara ilmiah kita bisa buktikan," katanya dalam keterangan tertulis, mengutip Kompas.com.

Menurut Fadjry, minyak atsiri eucalyptus citridora bisa menjadi antivirus terhadap virus avian influenza (flu burung) subtipe H5N1, gammacorona virus, dan betacoronavirus.

Penemuan tersebut disimpulkan melalui uji molecular docking dan uji in vitro di Laboratorium Balitbangtan.

Dia mengatakan, laboratorium tempat penelitian eucalyptus telah mengantongi sertifikat level keselamatan biologi atau biosavety level 3 (BSL 3) milik Balai Besar Penelitian Veteriner.

Virologi Kementan pun sudah melakukan penelitan sejak 10 tahun lalu dan tak asing dalam menguji golongan virus corona seperti influenza, beta corona, dan gamma corona.

4. Peringatan epidemiolog

Epidemiolog Griffith University Australia Dicky Budiman menilai, tak ada relevansi antara kalung antivirus dengan paparan virus corona.

"Saya tidak melihat relevansi yang kuat antara kalung di leher dengan paparan virus ke mata, mulut, dan hidung," kata Dicky saat dihubungi Kompas.com,Sabtu (4/7/2020).

Ia mengatakan, penularan Covid-19 terjadi melalui beberapa mekanisme seperti droplet aerosol yang terhirup hidung atau melalui sentuhan ke mata dan mulut.

Meski eucalyptus diketahui memiliki potensi antiviral, Dicky menyebutkan, riset tersebut dalam bentuk spray dan filter.

Itu pun baru pada jenis virus terbatas yang sudah umum, bukan Covid-19.

Oleh karena itu, dia menganggap produksi produk eucalyptus yang ditujukan untuk mencegah virus corona terlalu dipaksakan dan berpotensi menimbulkan salah persepsi.

"Belum terbukti secara ilmiah dan dimuat di jurnal ilmiah tentang potensi mencegah virus SARS-CoV-2," jelas dia.

Menurut Dicky, sejumlah negara Asia dan Eropa sebelumnya telah melarang produk antivirus dari Jepang.

Pasalnya, selain dianggap tidak memiliki dasar ilmiah, kalung itu juga dikhawatirkan akan membuat rasa aman palsu yang mengendurkan pencegahan.

Untuk itu, dia meminta agar semua pihak memahami prinsip penularan Covid-19 dengan benar.

Ia juga mengimbau agar pemerintah lebih fokus pada strategi yang sudah sangat jelas terbukti secara ilmiah dan juga fakta terkini, yaitu testing, tracing, dan isolated.

"Adanya kalung apa pun tidak akan berpengaruh saat tangan yang terpapar virus menyentuh hidung, mata, dan mulut," kata Dicky.

5. Izin edar

Sementara itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementan Fadjry Djufry mengatakan, proses izin untuk produk eucalyptus dalam bentuk kalung itu masih dalam proses.

Untuk produk-produk lainnya, Fadjry menyebut telah mengantongi izin dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).
"Izin edar roll on dan inhaler dari BPOM sudah keluar. Sekarang lagi di produksi oleh PT Eagle Indhoparma, sedang kalung aroma terapi masih berproses," jelas dia

"Saya tidak melihat relevansi yang kuat antara kalung di leher dengan paparan virus ke mata, mulut, dan hidung," kata Dicky saat dihubungi Kompas.com,Sabtu (4/7/2020).

Ia mengatakan, penularan Covid-19 terjadi melalui beberapa mekanisme seperti droplet aerosol yang terhirup hidung atau melalui sentuhan ke mata dan mulut.

Meski eucalyptus diketahui memiliki potensi antiviral, Dicky menyebutkan, riset tersebut dalam bentuk spray dan filter.

Itu pun baru pada jenis virus terbatas yang sudah umum, bukan Covid-19.

Oleh karena itu, dia menganggap produksi produk eucalyptus yang ditujukan untuk mencegah virus corona terlalu dipaksakan dan berpotensi menimbulkan salah persepsi.

"Belum terbukti secara ilmiah dan dimuat di jurnal ilmiah tentang potensi mencegah virus SARS-CoV-2," jelas dia.

Menurut Dicky, sejumlah negara Asia dan Eropa sebelumnya telah melarang produk antivirus dari Jepang.

Pasalnya, selain dianggap tidak memiliki dasar ilmiah, kalung itu juga dikhawatirkan akan membuat rasa aman palsu yang mengendurkan pencegahan.

Untuk itu, dia meminta agar semua pihak memahami prinsip penularan Covid-19 dengan benar.

Ia juga mengimbau agar pemerintah lebih fokus pada strategi yang sudah sangat jelas terbukti secara ilmiah dan juga fakta terkini, yaitu testing, tracing, dan isolated.

"Adanya kalung apa pun tidak akan berpengaruh saat tangan yang terpapar virus menyentuh hidung, mata, dan mulut," kata Dicky.


Sumber :  tribun-timur.com
Penulis: Nur Fajriani R
Editor: Anita Kusuma Wardana